TEKS NARASI
Cinta Kasih Terhadap Hewan Peliharaan
Di kota Yogyakarta, ada seorang keluarga berkecukupan yang melahirkan seorang putra bernama Rama Wijaya. Dari kecil Rama sudah ditemani oleh kucing yang ia namai momo. Momo mempunyai bulu yang lembut berwarna coklat muda, dengan hidung kecil berwarna hitam dan mata besar yang selalu tampak lembut saat melihat Rama. Saat ini Rama sudah berusia 5 tahun bersama dengan kucingnya – sejak Momo masih berusia beberapa minggu saja.
Rama sangat sayang kepada kucing peliharaannya tersebut. Setiap pagi, ia selalu yang pertama kali mengunjungi tempat tidur Momo di sudut ruang tamu, membawa mangkuk makanan dan air segar dengan tangannya yang masih kecil. Rama setiap hari bermain dengan Momo tanpa mengenal rasa lelah – kadang mereka berlari-lari kecil di halaman belakang, kadang Rama membuat rumah kecil dari kardus untuk Momo, atau hanya duduk bersama sambil menggoyangkan ekornya yang panjang. Rama sering mencium dan juga menggendong Momo dengan hati-hati, seperti sedang merawat bayi kecil. Momo pun hanya diam dan menurut saja akan dibuat seperti apa oleh Rama, terkadang menjilat telapak tangan Rama dengan lidahnya yang kasar namun penuh kasih. Orang tua Rama hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya, meskipun di dalam hati mereka merasa senang melihat putra mereka begitu penuh perhatian pada makhluk lain.
Suatu hari, saat sedang bermain bersama Momo di lantai kamar, tiba-tiba Rama mulai batuk terus-menerus dan mengeluarkan suara mengi di dadanya. Ia merasa sesak dan wajahnya memucat pucat. Orang tua Rama yang melihatnya langsung panik dan membawa ia ke rumah sakit terdekat. Saat sampai di rumah sakit, dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh dan memberitahu kepada orang tua Rama bahwa ia terkena sesak napas akut karena bulu kucing yang telah masuk ke saluran pernapasan dan mulai menumpuk di sekitar paru-paru nya. Dokter menjelaskan bahwa Rama memiliki sensitivitas terhadap bulu hewan yang membuat tubuhnya bereaksi dengan kuat.
Orang tua Rama khawatir dengan keadaan Rama yang sudah mulai sesak napas karena bulu kucing peliharaannya. Mereka melihat putra mereka yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan alat bantu nafas di hidungnya, dan hati mereka terasa seperti ditusuk duri. "Nak, kucingnya kita kasih ke pet shop ya? Nanti kita cari hewan peliharaan lain yang tidak punya bulu, biar kamu tidak sakit lagi," ucap orang tua Rama dengan suara lembut. Rama yang mendengar itu hanya bisa diam menahan tangis, matanya berkaca-kaca melihat langit-langit kamar rumah sakit. Ia tidak berani menangis keras karena takut membuat sesak napasnya semakin parah.
Keesokan harinya, setelah mendengar kabar bahwa Momo sudah akan dijemput oleh pemilik pet shop pada sore hari, ia mulai tidak mau makan sama sekali. Makanan yang dibawakan oleh ibunya – mulai dari bubur ayam hingga kue kesukaannya – tidak sedikitpun menyentuh bibirnya. "Nak, makan dulu ya dari pagi kamu belum makan sama sekali. Kalau tidak makan, badan kamu tidak akan kuat dan lama sembuh," bujuk orang tua Rama sambil mencium dahinya yang masih hangat karena demam ringan. "Gamau," jawab Rama dengan melengos, wajahnya menunduk ke bawah. Orang tua Rama bingung apa yang harus dilakukannya untuk bisa membuat anaknya mau makan lagi; mereka sudah mencoba berbagai cara namun tidak berhasil.
Tiba-tiba, Rama mengangkat wajahnya dan menatap mata ibunya dengan tatapan yang penuh harap. "Mah, pah, aku gamau makan kalau Momo ga ada disini. Aku merindukan dia – dia pasti juga merindukan aku," ucap Rama dengan suara sedikit menggigil, membuat orang tuanya seketika kaget mendengar kata-kata yang keluar dari mulut sang anak kecil. "Aku ga akan cium Momo lagi kok Ma, aku juga tidak akan menggendongnya terlalu lama. Aku cuma mau Momo sekarang ada disini, biar aku bisa melihatnya dan menyapa dia setiap hari," ujar Rama dengan suara yang tegas namun penuh rasa sakit hati. Orang tua Rama lalu memikirkan lagi tentang ucapan Rama – melihat betapa erat hubungan antara putra mereka dengan kucing tersebut, dan menyadari bahwa cinta kasih yang mereka bagi bukanlah sesuatu yang bisa begitu saja dipisahkan. Mereka juga berkonsultasi kembali dengan dokter, yang menyatakan bahwa jika dilakukan langkah-langkah pencegahan yang tepat – seperti sering menyikat bulu Momo, membersihkan rumah secara rutin, dan Rama menggunakan masker saat berdekatan dengan kucing – risiko sakit bisa diminimalkan.
Akhirnya, setelah mempertimbangkan kembali dan mendapatkan izin dari pihak rumah sakit, orang tua Rama memutuskan untuk menjemput Momo dan membawanya kerumah sakit bertemu dengan Rama. Saat Momo masuk ke kamar dan langsung berlari menuju ranjang Rama, ekornya bergoyang cepat-cepat, Rama langsung tersenyum lebar – senyuman pertama yang muncul di wajahnya sejak masuk rumah sakit. Ia mengajak Momo duduk di tepi ranjang, menyentuh kepalanya dengan lembut sambil berkata, "Aku sudah kangen banget sama kamu, Momo." Rama pun sudah mulai mau makan meskipun sedikit-sedikit dan tubuhnya pun perlahan mulai membaik, karena bukan hanya obat yang menyembuhkannya, tetapi juga kehadiran sahabat kecilnya yang dicintainya.
Komentar
Posting Komentar